BI Ambil Dua Pendekatan untuk Sebarkan Rupiah Digital

TEKNOSIGNAL.COM Bank Indonesia (BI) saat ini tengah mengkaji dua opsi distribusi rupiah digital sebagai persiapan penerapan mata uang digital bank sentral alias bank sentral. mata uang digital (CBDC) di dalam negeri.

“Ada dua pendekatan yang sedang diselidiki BI, yaitu secara langsung atau tidak langsung satu tingkat dan secara tidak langsung atau dua tingkat,” kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung saat Fit and Proper Test Calon Deputi Gubernur BI bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (30/11/2021).

Dijelaskannya, pendekatan langsung berarti masyarakat, baik rumah tangga maupun korporasi, bisa mendapatkan token rupiah digital langsung dari BI.

Sedangkan pendekatan tidak langsung dilakukan melalui dua tahap yaitu bank sentral mengedarkan rupiah digital melalui bank, kemudian masyarakat dapat membelinya dari bank.

Baca Juga  GIIAS Peduli Sesama, Seluruh Hasil Penjualan Tiket Disumbangkan Untuk Korban Erupsi Semeru

“Menurut kami yang kedua ini lebih tepat karena seperti peredaran uang kertas dan uang logam seperti sekarang ini,” katanya seperti dikutip Antara.

Ia menilai, penerbitan rupiah digital saat ini penting untuk menjaga kedaulatan mata uang suatu negara, meningkatkan jumlah transaksi digital, menjaga efektivitas kebijakan moneter bank sentral, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendorong inklusi keuangan.

Sebuah survei menunjukkan bahwa 60 persen bank sentral dunia sudah mempertimbangkan untuk menerapkan CBDC dan 14 persen dari bank sentral tersebut sudah memulainya.

Meski demikian, Juda Agung menegaskan penggunaan rupiah digital tidak akan menggantikan rupiah kertas dan logam secara penuh, sehingga penerapannya akan dilakukan secara bertahap, seperti 20 persen dari mata uang yang ada.

Baca Juga  Mimpi buruk pemotongan kabel YouTube TV tertunda dengan saluran NBCU yang tersisa untuk saat ini

“Ini untuk menghindari resiko misalnya mati listrik, kalau semuanya digital resikonya bisa besar. Jadi harus tetap ada uang kertas dan uang logam dan porsinya dilakukan bertahap,” pungkasnya.

Sekadar informasi, sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan pihaknya sedang dalam proses percepatan penerbitan rupiah digital sebagai alat pembayaran. mata uang digital bank sentral (CBDC).

“Namun kami juga tidak tinggal diam yaitu proses percepatan penerbitan rupiah digital. Ini yang sedang kami persiapkan. Insya Allah tahun depan sudah bisa mempresentasikan konsep atau desainnya,” kata Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI yang membahas evaluasi kinerja BI 2021 dan pengantar pembahasan RATBI 2022. di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (25/11/2021).

Baca Juga  TigerGraph bermitra dengan Metrodata untuk distribusi dan akademi

Menurutnya, ini merupakan langkah mitigasi penggunaan cryptocurrency dalam negeri yang menjadi tren global dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih lanjut, aset kripto bernama Perry Warjiyo merupakan masalah global sekaligus tantangan global yang perlu diwaspadai. Namun, itu harus menjadi permintaan pasar global, tidak diketahui secara pasti siapa pihak atau lembaga pemasoknya.

“Siapa yang memegang? persediaan, tetapi permintaan dari seluruh dunia. suplai dari mana, jadi kami juga tidak tahu penilaiannya seperti apa?” dia melanjutkan.

Perry Warjiyo kembali menegaskan bahwa aset kripto bukanlah alat pembayaran yang sah di Indonesia.

“Kami telah melarang semua lembaga yang telah mendapat izin dari Bank Indonesia untuk melayani kripto dan kami telah menurunkan pengawas. Itu yang sudah kami lakukan,” imbuhnya.[]

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *